3 Kerajaan Peradaban Mesir Kuno

Posted on
Rasanya takkan ada habisnya kalau kita berbicara mengenai sejarah peradaban Mesir Kuno. Pada zamannya, bangsa Mesir telah mempunyai peradaban yang tinggi. Namun, selama kurun waktu peradaban Mesir yang panjang kawasan ini seringkali mengalami kudeta baik dari dalam wilayah Mesir itu sendiri maupun dari invasi bangsa asing.
Bangsa Mesir selama kehidupannya mengalami aneka macam periode-periode kepemimpinan diawali dengan berdirinya kerajaan Mesir Hilir yang beribukota Memphis dan kerajaan Mesir Hulu yang beribukota di Thebe pada tahun 3150 SM, gres pada tahun 3000-an SM Mesir berada pada satu efek dibawah Firaun Meni atau Menes.

Baca juga: Peradaban tiga zaman Mesir Kuno

Terdapat tiga periode penting yang membagi sejarah Mesir kuno, periode-periode tersebut mencakup Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan, dan Kerajaan Baru (Jill Rubalcaba : 10-11).
Kerajaaan Baru
Dikenal dengan nama zaman piramida, Kemajuan dalam bidang arsitektur, seni, dan teknologi dibentuk pada masa  Kerajaan Lama. Kemajuan ini didorong oleh meningkatnya produktivitas pertanian, yang dimungkinkan alasannya yaitu pemerintahan sentra dibina dengan baik. Di bawah pengarahan wazir, pejabat-pejabat negara mengumpulkan pajak, mengatur proyek irigasi untuk meningkatkan hasil panen, mengumpulkan petani untuk bekerja di proyek-proyek pembangunan, dan menetapkan sistem keadilan untuk menjaga keamanan.
Dengan sumber daya surplus yang ada alasannya yaitu ekonomi yang produktif dan stabil, negara bisa membiayai pembangunan proyek-proyek kolosal dan menugaskan pembuatan karya-karya seni istimewa. Piramida yang dibangun oleh Djoser, Khufu, dan keturunan mereka, merupakan simbol peradaban Mesir Kuno yang paling diingat.
Pada selesai periode Kerajaan Lama, lima masa berlangsungnya praktik-praktik feudal pelan-pelan mengikis kekuatan ekonomi firaun. Firaun tak lagi bisa membiayai pemerintahan terpusat yang besar. Dengan berkurangnya kekuatan firaun, gubernur regional yang disebut nomark mulai menantang kekuatan firaun.
Hal ini diperburuk dengan terjadinya kekeringan besar antara tahun 2200 hingga 2150 SM, sehingga Mesir Kuno memasuki periode kelaparan dan perselisihan selama 140 tahun yang kesudahannya membawa kerajaan usang ini pada kehancuran.
Kerajaan Pertengahan
Pada periode menengah pertama Mesir terpecah menjadi sejumlah kerajaan-kerajaan kecil. Kemudian pada masa Mentuhotep I Mesir berhasil kembali disatukan, ia berhasil mengembalikan kesejahteraan dan kestabilan negara, sehingga mendorong kebangkitan seni, sastra, dan proyek pembangunan monumen.Mentuhotep II dan sebelas dinasti penerusnya berkuasa dari Thebes, tetapi wazir Amenemhat I, sebelum memperoleh kekuasaan pada awal dinasti ke-12 (sekitar tahun 1985 SM), memindahkan ibukota ke Itjtawy di Oasis Faiyum.
Dari Itjtawy, firaun dinasti ke-12 melaksanakan reklamasi tanah dan irigasi untuk meningkatkan hasil panen. Selain itu, tentara kerajaan berhasil merebut kembali wilayah yang kaya akan emas di Nubia, sementara pekerja-pekerja membangun struktur pertahanan di Delta Timur, yang disebut tembok-tembok penguasa, sebagai dukungan dari serangan asing.
Maka populasi, seni, dan agama negara mengalami perkembangan. Berbeda dengan pandangan elitis Kerajaan Lama terhadap dewa-dewa, Kerajaan Pertengahan mengalami peningkatan ungkapan kesalehan pribadi. Selain itu, muncul sesuatu yang sanggup dikatakan sebagai demokratisasi sehabis akhirat; setiap orang mempunyai arwah dan sanggup diterima oleh dewa-dewa di akhirat.[36]
Sastra Kerajaan Pertengahan menampilkan tema dan huruf yang canggih, yang ditulis memakai gaya percaya diri dan elok, sementara relief dan pahatan potret pada periode ini menampilkan ciri-ciri kepribadian yang lembut, yang mencapai tingkat gres dalam kesempurnaan teknis.
Penguasa terakhir Kerajaan Pertengahan, Amenemhat III, memperbolehkan pendatang dari Asia tinggal di wilayah delta untuk memenuhi kebutuhan pekerja, terutama untuk penambangan dan pembangunan. Penambangan dan pembangunan yang ambisius, ditambah dengan meluapnya sungai Nil, membebani ekonomi dan mempercepat kemunduran selama masa dinasti ke-13 dan ke-14. Semasa kemunduran, pendatang dari Asia mulai menguasai wilayah delta, yang selanjutnya mulai berkuasa di Mesir sebagai Hyksos.
Kerajaan Lama
Periode kerajaan gres dimulai sesaat terusirnya bangsa Hyksos keluar dari Mesir dibawah firaun Ahmose.  Firaun-firaun Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan yang tak tertandingi sebelumnya. Perbatasan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I dan cucunya Tuthmosis III memperluas efek firaun ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting ibarat perunggu dan kayu.
Firaun-firaun Kerajaan juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat tuhan Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak. Para firaun juga membangun monumen untuk memuliakan pencapaian mereka sendiri, baik faktual maupun imajiner. Firaun wanita Hatshepsut memakai propaganda semacam itu untuk mengesahkan kekuasaannya. Masa kekuasaannya yang berhasil dibuktikan oleh ekspedisi perdagangan ke Punt, kuil kamar mayit yang elegan, pasangan obelisk kolosal, dan kapel di Karnak.

Baca Juga :   Sejarah Agama Buddha Di Dunia

Baca juga artikel Mesir lainnya:

Demikian yang sanggup kami sampaikan mengenai 3 Kerajaan Peradaban Mesir Kuno, agar menjadi aksesori catatan sejarah dunia.