Koperasi Syariah – Pengertian, Landasan, Perbedaan Dengan Koperasi Konvesional Dan Kendala

Posted on
Di Indonesia koperasi mulai dirintis oleh seorang pamong praja berjulukan Patih Aria Wiria Atmaja di Purwokerto pada tahun 1986 pada dikala pemerintahan Hindia Belanda. Beliau mendirikan sebuah bank untuk para pegawai negeri dan para petani yang pada dikala itu mengalami kesulitan akibatulah lintah darat. Akan tetapi gerakan koperasi pada masa penjajahan tidak mempunyai suatu iklim yang baik untuk pertumbuhannya. Baru kemudian sehabis Indonesia merdeka, dengan tegas perkoperasian ditulis dalam UUD1945 dalam pasal 33. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa berdiri perekonomian yang sesuai dengan azas kekeluargaan ialah koperasi. Saat itu juga ditetapkan 12 Juli sebagai hari Koperasi yang juga diambil dari tanggal Kongres Koperasi I yaitu pada tanggal 12 Juli 1947 serta memutuskan Muhammad Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Sejak dikala itu koperasi  di Indonesia mulai mengalami perkembangan yang cukup meyakinkan dengan mulai semakin banyaknya koperasi yang bermunculan sampai mencapai angka 9000 koperasi di tahun 2008. Selain itu juga jenis koperasi mulai bermunculan dan semakin beragam. Salah satu jenis koperasi yang mulai menjadi tren di masa kini ialah koperasi syariah. Koperasi syariah memperlihatkan penawaran yang lebih banyak  memperlihatkan variasi pilihan bagi masyarakat Indonesia  yang  sebagian besar memeluk agama Islam. Karena hal tersebut juga perkembangan koperasi syariah di Indonesia juga tidak membutuhkan waktu usang untuk berkembang. Dalam Islam, koperasi tergolong sebagai syirkah. Lembaga ini ialah wadah kemitraan, kerjasama, kekeluargaan, dan kebersamaan perjuangan yang sehat, baikdan halal. Akan tetapi koperasi syariah masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat Indonesia, untuk itu kami selaku penulis mencoba untuk menjelaskan secara singkat ihwal koperasi syariah dalam makalah ini yang berjudul “Koperasi Syariah sebagai Landasan Baru Perekonomian Indonesia”.

Pengertian Koperasi Syariah

Koperasi Syariah Merupakan sistem ekonomi Islam yang integral dan merupakan suatu kumpulan dari barang-barang atau bagian-bagian yang bekerja secara bersama-sama sebagai suatu keseluruhan.
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kau kedalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kau mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya Syetan itu ialah musuhmu yang nyata”. (Q.S. Al Baqarah : 208).
Merupakan belahan dari nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam yang mengatur bidang perekonomian umat yang tidak terpisahkan dari aspek-aspek lain dari keseluruhan fatwa Islam yang komprehensif dan integral. “Pada hari ini telah saya sempurnakan untuk kau agamamu, dan telah saya cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah saya ridhoi Islam sebagai agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Maidah : 3)

Landasan Koperasi Syariah

1. Koperasi syariah berlandaskan pancasila dan undang-undang dasar 1945
2. Koperasi syariah berazaskan kekeluargaan
3. Koperasi syariah berlandaskan syariah islam yaitu Al-Quran dan Assunnah dengan saling tolong menolong (ta’awun) dan saling menguatkan (takaful)

Tujuan Berdirinya Koperasi Syariah

1. Mensejahterakan Ekonomi Anggotanya sesuai norma dan moral Islam :
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi, dan jangalah kau mengikuti langkah-langkah syetan, alasannya ialah tolong-menolong syetan itu musuh yang nyata bagimu”. (Q.S Al Baqarah : 168)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kau haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kau melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah masakan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kau beriman kepada-Nya”. (Q.S AL Maidah : 87-88)
“Apa bila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kau beruntung..” (Q.S Al Jumu’ah : 10 )
2. Menciptakan Persaudaraan dan Keadilan Sesama Anggota
“Hai manusia, tolong-menolong kami membuat kau dari seorang pria serta seorang wanita dan mengakibatkan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kau saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kau disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. ( Q.S Al Hujarat (49) : 13)
3. Pendistribusian pendapatan dan kekayaan yang merata sesama anggota Berdasarkan kontribusinya.
Agama Islam mentolerir kesenjangan kekayaan dan penghasilan alasannya ialah insan tidak sama dalam hal karakter, kemampuan, kesungguhan dan bakat. Perbedaan diatas tersebut merupakan penyebab perbedaan dalam pendapatan dan kekayaan. Hal ini sanggup terlihat pada Al Qur’an :
‘Dan Allah melebihkan sebahagian kau dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memperlihatkan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, semoga mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah…?” (Q.S An Nahl (16) : 71)
4. Kebebasan eksklusif dalam kemaslahatan sosial yang didasarkan pada pengertian bahwa insan diciptakan hanya untuk tunduk kepada Allah.

“Orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka, bergembira dengan Kitab yang diturunkan kepadamu dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya.
Katakanlah : “ Sesungguhnya saya hanya diperintah menyembah Allah dan tidak untuk mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya Kepada-Nya saya seru (manusia) dan hanya kepada-Nya saya kembali ”. (Q.S Ar Ra’d (13) : 36)
Ada 7 pantangan yang harus dihindari dalam bisnis. Dan ini harus dipegang sebagai pantangan moral bisnis (moral hazard).
1. Maysir yaitu segala bentuk spekulasi judi (gambling) yang mematikan sektor riil dan tidak produktif.
2. Asusila yaitu praktik perjuangan yang melanggar kesusilaan dan norma social.
3. Goror yaitu segala transaksi yang tidak transparan dan tidak terang sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak.
4. Haram yaitu objek transaksi dan proyek perjuangan yang diharamkan syariah.
5. Riba yaitu segala bentuk distorsi mata uang menjadi komoditas dengan mengenakan pelengkap (bunga) pada transaksi kredit atau pemberian dan pertukaran/barter lebih antar barang ribawi sejenis. Pelarangan riba ini mendorong perjuangan yang berbasis kemitraan dan kenormalan bisnis, disamping menghindari praktik pemerasan, eksploitasi dan pendzaliman oleh pihak yang mempunyai posisi tawar tinggi terhadap pihak yang berposisi tawar rendah.
6. Ihtikar yaitu penimbunan dan monopoli barang dan jasa untuk tujuan permainan harga.
7. Berbahaya yaitu segala bentuk transaksi dan perjuangan yang membahayakan individu maupun masyarakat serta bertentangan dengan maslahat dalam maqashid syari’ah.
Jika acara usahanya tidak menghindari ketujuh pantangan bisnis syari’ah, koperasi sanggup kehilangan identitas (jatidinya). Koperasi harus meninggalkan praktik riba berupa penggunaan skim bunga dalam acara usahanya. Tidak memutuskan bunga dalam acara simpan pinjamnya. Karena, riba bertentangan dengan spirit kemitraan, keadilan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Sistem bunga tidak peduli dengan nasib debiturnya dan tidak adil dalam penetapan bunga atas pokok modal.
Syari’ah harus diterima dan diterapkan koperasi secara keseluruhan. Bukan sepotong-potong. Karena, penerapan yang sepotong-potong tidak menjamin teraktualisasikannya tujuan koperasi. (Al-Baqarah: 85). “Hai orang-orang yang beriman! Masuk Islamlah kau dengan keseluruhan, dan janganlah kau mengikuti langkah-langkah setan, alasannya ialah setan itu ialah musuh yang nyata.” (Al-Baqarah: 208). “Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’du: 11)
Dengan teraktualisasikannya prinsip-prinsip syariah dalam pengelolaan ekonomi, koperasi bisa mewujudkan keadilan dan menyejahterakan bagi semua. Rahmatan lil ‘alamin.

Perbedaan Koperasi Syariah dengan Koperasi Konvesional

Perbedaan disini bisa dilihat  dari koperasi konvensional yaitu segi pengertian, konsep, aliran koperasi, dan prinsip. Sedangkan dalam koperasi syariah bisa dilihat dari segi pengertian, nilai-nilai koperasi, tujuan, fungsi dan tugas koperasi syariah.

Koperasi Konvensional

Konsep Koperasi

Koperasi merupakan organisasi swasta, yang dibuat secara sukarela oleh orang-orang yang mempunyai persamaan kepentingan, dengan maksud mengurusi kepentingan para anggotanya serta membuat keuntungan timbal balik bagi anggota koperasi maupun perusahaan koperasi.

Aliran Koperasi

1. Aliran Yardstick
aliran ini koperasi sanggup menjadi suatu kekuatan untuk menyeimbangkan, menetralisasikan, menstabilkan dan mengoreksi perekonomin negara tersebut. tapi, pemerintah tidak akan ikut campur tangan terhadap keadaan koperasi tersebut.
2. Aliran Sosialis
Koperasi disini dianggap penting dalam mensejahterakan masyarakat alasannya ialah system dalam aliran ini sangat menguntungkan dan juga koperasi dianggap penyatu masyarakat dari banyak sekali elemen dari kalangan atas, menengah maupun bawah dan mempunyai system kekeluargaan.
3. Aliran Persemakmuran
Koperasi disini sebagai wadah ekonomi masyarakat yang bersifat strategis dan mempunyai peranan penting dalam sector perekonomian masyarakat. Dalam aliran ini pemerintah juga ikut membantu koperasi dan menjadi tanggung jawab pemerintah dalam memajukan koperasi.
Prinsip Koperasi
Dalam Undang-Undang RI No0 25 Tahun 1992 ihwal Perkoperasian disebutkan pada pasal 5 bahwa dalam pelaksanaannya, sebuah koperasi harus melaksanakan prinsip koperasi. Beriku ini prinsip-prinsip koperasi ialah :
1. Keanggotaan bersifat terbuka
2. Pengelolaan dilakukan secara adil
3. Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil
4. Pemberian balas jasa bukan dari besarnya modal
5. Memegang prinsip kemandirian

Koperasi Syariah

Koperasi syari’ah juga mempunyai pengertian yang sama yang acara usahanya bergerak dibidang pembiayaan, investasi, dan simpanan sesuai teladan bagi hasil (syariah), atau lebih dikenal dengan koperasi jasa keuangan syariah.

Nilai-nilai Koperasi

Ada 7 adopsi bisnis dalam perkonomian syariah sebagai berikut:
1. Shiddiq : mencerminkan kejujuran, akurasi dan akuntabilitas
2. Istiqamah : mencerminkan konsistensi, janji dan loyalitas
3. Tabligh : mencerminkan edukasi, komunikatif dan transparansi
4. Amanah : mencerminkan kepercayaan, integritas dan reputasi
5. Fathanah : mencerminkan kreatif, etos kerja, dan inovatif
6. Ri’ayah : mencerminkan semangat solidaritas, kepedulian dan empati
7. Mas’uliyah : mencerminkan responbilitas

Tujuan Koperasi Syariah

Koperasi syariah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta turut membangun tatanan perekonomian yang berkeadilan sesuai prinsip-prinsip islam.

Fungsi Koperasi Syariah

1. Membangun dan menyebarkan potensi dan kemampuan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, guna meningkatkan, kesejahteraan sosial ekonominya.
2. Memperkuat kualitas sumber daya insani anggota, semoga menjadi lebihamanah, professional (fathonah), konsisten, dan konsekuen (istiqomah) di dalam menerapkan prinsip-prinsip ekonomi islam dan prinsip-prinsip syariah islam
3. Berusaha untuk mewujudkan dan menyebarkan perekonomian nasional yang merupakan perjuangan bersama menurut azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi
4. Sebagai perantara antara menyandang dana dengan penggunan dana, sehingga tercapai optimalisasi pemanfaatan harta.
5. Menguatkan kelompok-kelompok anggota, sehingga bisa berhubungan melaksanakan kontrol terhadap koperasi secara efektif
6. Mengembangkan dan memperluas kesempatan kerja
7. Menumbuhkan kembangkan usaha-usaha produktif anggota.

Kendala Koperasi Syariah

3 permasalah pokok yang harus dihadapi oleh koperasi-koperasi syariah dan BMT-BMT yang ada di Indonesia, yaitu :
1. Pemikiran yang disebut dengan limiting belive.
Limiting belive ialah istilah dalam psikologi mengenai sebuah pemikiran yang berkecederungan negatif dan yang dibuat oleh belenggu keyakinan keliru.
Mengapa ini diimasukkan dalam permasalahan pokok yang harus dihadapi?, tentu saja alasannya ialah keyakinan yang keliru kerap membatasi seseorang atau tubuh perjuangan menyerupai koperasi, sulit untuk berkembang, meskipun peluang ke arah perkembangan sudah terbuka lebar.
Secara umum, limiting belive juga telah membelenggu perkembangan seluruh koperasi di tanah air. Bayak orang tidak percaya bahwa koperasi bisa berkembang sebagai perusahaan yang bisa menjamin kesejahteraan manajer atau karyawannya.
Dapat Anda pikirkan, bagaimana bila pemikiran menyerupai ini justru menghinggapi pikiran dan mental pengurus, karyawan dan anggota koperasi sendiiri?. Ketika ada peluang bisnis yang bisa melecut laju perkembangan koperasi, maka mereka tidak melaksanakan apa-apa dan berujar: “Ah, kita hanya sebuah koperasi… Begini saja sudah bagus”. Padahal aset berharga bagi perkembangan koperasi ialah anggota dan pengurus-pengurusnya.
Untuk melepaskan diri dari belenggu limiting belive, tentunya banyak cara yng bisa dilakukan dan diantaranya ialah dengan K2BK dan KopraNET. Dua cara ini sanggup memperlihatkan gebrakan perkembangan koperasi ataupun BMT syari’ah secara psikis dan secara teknis.
2. Kejujuran dalam menegakkan koperasi dan BMT syari’ah.
Beberapa masyarakat beranggapan bahwa sistem berbasis syariah belum benar-benar dianut. Pasalnya, banyak acara pengajuan laporan keuangan palsu untuk memperkecil pajak ataupun keuntungan yang haru diterima oleh investor.
Kejujuran memang sangat sulit ditegakkan, namun ada cara untuk mengatasi problem tersebut, sehingga masyarakat tidak sangsi atau mencurigai keaslian la[puran keuangan yang diajukan dan alhasil masyarakat berbondong-bondong untuk melaksanakan investasi. Cara yang ampuh dimana sanggup menegakkan kejujuran dalam laporan keuangan ialah dengan cara melakuka acara KopraNET.
3. Meningkatkan semangat pasar emosional dalam berkoperasi dan BMT syari’ah.
Seperti yang kita ketahui, kini ini investor ( shahibul mal ) ingin melaksanakan investasi bila mendapat keuntungan yang sanggup disebut dengan semangat pasar rasional. Sedangkan, semangat pasar emosional ialah semangat dimana para investor ( shahibul mal ) menginvestasikan dananya kepada koperasi dan BMT syari’ah semata-mata hanya untuk membantu sesama kaum muslimin.
Koperasi dan BMT syari’ah harus meningkatkan semangat pasar emosional, sehingga para investor ( shahibul mal ) nrimo dan tetap menginvestasikan dananya apabila koperasi dan BMT syari’ah ini sedang mengalami krisis dan tetap bertahan untuk berdiri serta berkembang kembali.
Dengan melaksanakan K2BK dimungkinkan semangat pasar emosional para investor ( shahibul mal ) koperasi dan BMT syari’ah sanggup bertambah dengan memperkuat tali silaturahmi dan kepercayaan investor ( shahibul mal ) kepada koperasi tersebut.
Apabila tiga permasalahan pokok yang harus dihadapi ini, telah dihadapi secara optimal dan maksimal, maka tidak ada yang mematahkan kemungkinan bahwa koperasi ataupun BMT itu akan bermetamorfosis koperasi layaknya koperasi-koperasi di negara maju ataupun mengumpulkan keuntungan layaknya perusahan-perusahan besar.
Baca Juga :   Teknologi Yang Dialokasikan Pada Pita Uhf Dan Vhf Pada Channel Tv Swasta